Thursday, November 29, 2001

Malam di Penghujung Ramadhan

malam di penghujung Ramadhan,
cinta itu merebak tertebar
tercurah dari atap langit
terajut di helai-helai jiwaku

inikah cinta-Mu?
teduh meluruhkan segala dengki
sejuk meredam gundahku seluruh

inikah cinta-Mu?
kelembutannya memaku keningku bersujud
kecil aku di haribaan kerajaan-Mu
tak pantaslah aku menengadah pongah

inikah cinta-Mu?
hangatnya mencairkan jiwa yg beku
merubah kesombongan menjadi air mata
memuaikan congkakku sirna tak bersisa

malam di penghujung Ramadhan
sujud aku mengasa segenap pelukNya
bersimbah Cinta


(2001)

Thursday, September 27, 2001

Kepada Sang Khaliq (1)

Coretan di pagi hari


Kalau boleh aku meminta
Beri aku sepercik cairan syurgaMu
Sedikit saja.
Setitik itu kuperlukan untuk menyiram bara
Ini, di tungku yang menyala-nyala
Dengan sepanci dendam dan amarah
Menggelegak mencari jalan untuk segera
Tumpah ruah

Kalau boleh aku meminta
Beri aku satu utas benang
Pakaian bidadariMu
Tak perlu seuntaiannya
Agar dapat kurajutkan di hatiku yang
Ini hilang arah, tak ada sesuatu pun di hati ini
Petunjuk untuk jalan ke pintuMu

Kalau boleh aku meminta
Getarkanlah syaraf tawa di bibirku yang kelu
Aku hampir lupa menggerakkan jiwaku
Untuk sedikitnya senyum tersipu apalagi tertawa

Kalau boleh aku meminta
Antarkan aku ke jalan tempat KerajaanMu


(September 2001)

Kepada Sang Khaliq (2)



Satu-satu kau jauhkan semua kenikmatan
Yang dulu mengikatku,
Memalingkanku dariMu
Tak apa, aku kini tengah belajar
menatapMu dengan hati,
dan tersenyum menguraikan puja
ketimbang sejuta pinta

Kau berikan padaku kalbu
Di tempat tersembunyi dan yang
Tak pernah mampu kusadari
Dimana?

Kau sisipkan padanya cahaya
Hanya mataku terlalu miskin iman
Untuk melihat sedang dinding jiwaku
Terlalu penuh dengan karat
Melingku dan menyekap beningnya
Kaca hati hingga cahaya kalbuku redup
Dan mati

Kuharap tak Kau ambil cahayaku
Kumohon jangan dulu


(September 2001)

Thursday, September 6, 2001

Pada Kemarau di Musim Ini


kepada matahari
aku ingin menjadi telaga
yang selalu mengalirkan
mata air yang enggan mengering

kepada kemarau kualirkan 
kesejukan basuh kerontang 
pada tiap yang dahaga

kepada matahari
kualirkan cintaku
mengendap dan terserap
akar yg membangunkan bunga dari kuncup
daun yg mematangkan putik menjadi buah

kepada matahari,
kubiarkan lentik jemari sang cantik
memetik sematkan bunga cintaku
di wangi rambut legamnya


(September 2001)
Kemarau yang panjang

Saturday, July 14, 2001

Kidung Segala PujiMu, Yaa Rabb-ku


pagi ini kusematkan senyum
ketika kusapa Dzat-Mu
wahai yang memberiku pagi!

dan Kau menyiramkan pancaran
sinar Illah-Mu merayapi kalbu
izinkan Aku mengenalMu,

cahaya-Mu adalah lembayung,
merah dan jingga. taburi cakrawala,
nafas-Mu adalah kesejukan,
menyentuh pucuk daun tertinggi
berkoor semersa bernyanyi

hidup berjalan kembali,
untuk satu hari lagi

kuresap debar di dadaku.
Aku ingin merengkuh dzat-Mu;

Kaulah segala keindahan
dan bagimu segala pujian



(Juli 2001)

Thursday, June 14, 2001

Langkah-langkah


langkah-langkah yang melemah
tersendat dan berhenti;

meninggalkan catatan dan goresan

semangat yang berlari
menapak, melayang
tak pernah tua dan mati;

meninggalkan kenangan dan keabadian


(Juni 2001)

Monday, June 4, 2001

Suatu Siang di Pemakaman Tanah Kusir


aku melihatmu,
begitu keruh
kusam dan layu
jauh dari warna putih
mestinya ada padamu

aku mendengarmu,
kerap mengaduh
sendiri dan rapuh
jauh dari nyanyian kalam
lantunan ayat-ayat Quran

maafkan, aku begitu sibuk
dan lupa memeliharamu,
wahai ruh dalam jasadku


(4 Juni 2001)
-melayat

Wednesday, May 23, 2001

Ibuku

sorot matamu yang merindu
ketika aku datang pagi tadi
seperti padang gersang tak berperdu
menanti hujan bertahun pergi

selama itukah aku tak datang menjengukmu?

seperti tubuh yang bergerak tanpa jiwa
menggeluti kerja bak pecandu
waktu tak sempat lagi menyapa;
pagi sore siang malam berlalu

sedalam itukah aku lebur dengan angka-angka?

ibu, sisakan untukku haribaanmu
tempatku rebahkan kekanakan yang lelah
jangan kau menua dulu, ibu!
masih ada jiwaku yang selamanya bocah


(23 Mei 2001)

Saturday, May 19, 2001

Tentang Kita, Tentang Kebangsaan

(sebuah catatan untuk bangsa yang gemar bertikai)


tak dapatkah segenap kita menanggalkan pakaian
yang selama ini membungkus dan memilah kita
ke dalam kelas-kelas dan kelompok berbeda?
aku rindu kita yang menyatu

tak dapatkah sesaat saja kau tanggalkan
segala atribut yang membedakan aku dan kamu,
tempatku dan tempatmu
bumimu dan bumiku
dan yang tersisa hanya warna yang sama
merah dan putih bendera kit?

tak dapatkah kau tutup mulut dan buka telinga
hentikan tutur kata yang berbeda makna
yang menjerumuskan kita kedalam jurang
ketidak mengertian dan beda faham?
dan dengarkan dendang persatuan
yang kerap kita nyanyikan dalam lagu itu
lagu kebangsaan kita, indonesia raya
tidakkah itu berarti buatmu;
seperti berartinya getar itu bagiku

aku mengenalmu jauh sebelum kita bertemu
ketika darah kita masih mentah
menggelegak di tiap pembuluh darah
kakek dan nenek moyang kita
mereka yang berjuang untuk anak cucunya
agar kita bisa menghirup udara yang merdeka
seperti sekarang!
bukan berjuang untuk kepentingan sesaat
atau demi hidup kelompok, kerabat dan keluarga
yang mereka citakan itu cuma negara ini yang satu
bukan kita yang berbeda
mengapa tidak kita pakai pakaian itu sekarang?
aku saudaramu, kita sebangsa
tak ada yang membedakan diantara kita
jika kita mau

tak dapatkah sesaat saja
mata dan telinga kita bebas dari kucuran darah
yang mengalir hanya karena sebuah pertikaian
karena pakaian kita yang terkotak-kotak
karena bahasa kita yang tak sepaham
karena keinginan kita yang berseberangan
karena kealpaan kita,
bahwa kita sama
bahwa kita satu


(Mei 2001)

Thursday, May 17, 2001

Perjalanan Pulang Malam Itu


aku merayapi kemacetan, malam itu
jakarta, beragam wajahmu berkelebat
di angkot yang merayap meratap

wajah pertama
seorang anak kecil, tirus dan pucat
mencoba mengganjal lapar yang membebat
dengan bebunyian lantang
melatari nyanyian yang sumbang

angkot putih kumuh itu kulewati,
semburan knalpot batuk mengiringi

wajah kedua
malam menggerus tulangmu yang renta, ibu
sedang kau masih menebar tikar berharap
menanti para peminat serabi bau asap
di tengah lezatnya ayam Kentucky dan Yakiniku

lampu hijau menyala
mengusik hatiku yang teriris
kutarik gas dan berlalu segera
menyeruput debu dan angin tiris

dingin memeluk wajahku
yang mendadak muram


(17 Mei 2001)

Sunday, May 6, 2001

Sepiku Adalah



sepiku ada di tengah keramaian
senyap menyeruak dilingkup kebisingan
beriku ruang dialog antara aku dan jiwaku

sepiku adalah teman dalam kekosongan
ada monolog yang kugores
dalam dinding-dinding jiwaku

sepiku adalah saat kepedihan sirna
saat aku mengenali aku
memantra kerinduan

sepiku adalah berjuta swara...


(2001)

Saturday, May 5, 2001

Biarkan


biarkan kututup mata lekat-lekat
untukku meresapmu seluruh

dan biarkan telingaku lapat-lapat
mendengarmu tertawa riuh

maka biarkan aku mengenangnya
satu yang pernah kumencinta


(Mei 2001)

Thursday, May 3, 2001

T e k a d

Hiduplah, hidup
jiwaku hidup
kubangkit,
meski sayatan luka
berasa sakit


(3 Mei 2001)

Pada Pertiwi


Pertiwi;
adalah cacatmu, cacatku jua
adalah coreng morengmu
coreng morengku jua

Pertiwi;
pada tanahmu tersimpan sejarah
betapa kita bangsa yang ramah
disini kumemijak

jejak lekuk menjorok
tanah tumpah bawa bahgia, duka, semua
adalah bumiku pertiwi;

Indonesia


(3 Mei 2001)

Tuesday, May 1, 2001

Rinduku, Tuhanku (1)



pada padang tanah impian
kusemai ladang jiwaku
dengan benih kebersahajaan
aku rindu damai nafasMu

pada riak pantai biru permai
kularungkan biduk harap
bertebar jala berisi doa doa
aku rindu peluk rahmatMu

pada sepi di lembar malam
kurebahkan sukma melantun pinta dan puja
menuju Ars-Mu jauh di gugus bintang
berharap ridhoMu terima segera
cintaku sujudku dzikirku yang usang


(Mei 2001)
-tengah malam-

Rinduku, Tuhanku (2)


andai kuresap cinta-Mu
tak 'kan ada keresahan nafasku

andai kutangkap tali kasih-Mu
kan kuikat jiwa ragaku
dengan tasbih, tahlil dan tahmid

andai kutahu jalan menuju surgaMu
kan kutuntun jiwaku dengan doa

betapa kurindu mereguk Rohmah
pengisi jiwa laparku yang lelah


(Mei, 2001)
*kerinduan

Saturday, April 28, 2001

Ketika Semua Lelap



ketika semua lelap
dalam tidur, dalam mimpi
bermusik hening dan sepi
aku terjaga oleh resahku

mataku terbentang
terseret kerlip gemintang
guyuri aku sepanjang jalan
mencari arah digelap jalan

aku lepaskan seluruh beban
di kepastian dan keraguan
di keabadian dan kefanaan
di lelapku semua terpendam


(28 April 2001)

Monday, April 23, 2001

Pulang(1)


dan daun yang terkulai layu
gugur, rebah ke peraduan terakhir
melepas detak-detak lemah yang tersisa
di tengah sanak kadang dan orang tercinta

dan tanah merah menyambutmu, pulang
ke padang kehidupan abadi
disana, di dimensi yang hakiki
meninggalkan mata menerawang
jiwa-jiwa hampa dan lengang

sore menyapa mentari redup dan angin semilir
ketika taburan mawar dan seroja terakhir
menebarkan wanginya yang pilu mengiris

selamat jalan...
wahai tubuh yang renta
nyi uyut kami tercinta


(Ciledug, 23 April 2001
-pengalaman batin-

Pulang (2)


(Kepada Nyi Uyut)

tiba-tiba aku rindu wajahmu
dengan kerut-kerut yang dalam
bercerita tentang masa ke masa
bertahun lamanya

yang kuingat hanya ketika kau senyum
dengan tawa terkekeh terlontar merdu
dari mulutmu yang keriput tak bergigi
dan matamu yang selalu tertawa berseri

yang kukenang hanya kerentaan buku jarimu
yang dingin dan bisu menyentuh keningku
ketika kuucapkan selamat jalan;
kali terakhir

yang tertinggal hanya kenangan
mengganti sesuatu yang hilang;
sosokmu yang damai menyejukkan


(Ciledug, 23 April 2001)
-pengalaman batin-

Friday, April 20, 2001

Akulah Angin



Akulah angin
Menyejukkan sesiapa
Membelai tiap kulit
Tak terlihat
Tak dianggap


(April 2001)


Tuesday, April 10, 2001

Akulah Cadas



akulah cadas di karang pantai
ditempa debur ombak dari masa ke masa
terhempas angin basah yang menderu
menggerus jiwaku yang membatu
aku ingin menjadi dewasa


(10 April 2001)

Friday, April 6, 2001

Mengapa Mesti Bosan Ada?



mengapa mesti ada bosan
atau enggan, atau malu
sedang waktu tak pernah tertawa
menoleh pun tak jua

tidak kemarin
tidak hari ini


(2001)

Tuesday, March 20, 2001

Coretan #5


Saput, gelap, senyap, kalut
aku berlari, telah lelah kini
jalan ke ujung, dirundung
silau,
parau
oh, bianglala yang indah
dia telah pudar sudah

tergugu
aku ‘lah letih
sendiku mati
duduk... duduk... duduk...
redup... redup...

lena terlentang, alam mendatang
rembang petang
lalu lama hilang

fajar ‘lah menyingsing menjelang
panasi embun
gemeritik
damai kuracik....


(20 maret 2001)

Monday, March 19, 2001

Coretan #6

(Lelaki Tua Itu)



kusapa tubuh lelah lelaki itu
dia diam membisu

kutanyakan keinginannya
dia diam tak tahu

kutinggalkan dia
dalam keputus-asaan
dan menghiba


(19 maret 2001)

Sunday, March 18, 2001

Coretan #7


(Malamku)


ketika semua lelap
dalam tidur, dalam mimpi
bermusik hening dan sepi
terjaga aku oleh resah membekap

mataku terbentang
menyapa kerlip gemintang
temani aku sepanjang jalan
mencari arah di gelap menghutan

aku lepaskan seluruh desah
di kepastian dan ketidakpastian
aku rebahkan semua gundah
di keabadian dan keterbatasan


(18 Maret 2001)

Monday, March 12, 2001

Wahai Jiwa Yang...*



pada jiwa yang didalamnya terbaring cinta
adakah malam yang berpelita
saat kita merangkai waktu
di bawah selimut damai dan bisu

pada jiwa yang tenang tak bergejolak
kalbu yang ruangnya berpuing luka
adakah satu ruang dapat kusibak
di tempat mana ingin kurebahkan asa

aku ingin menggapai berjuta mimpi


(Maret 2001)

Friday, March 9, 2001

Pagi Menyambutku Lagi


pagi menyambutku lagi
dengan dingin sebagai selimut
hening jadi musik ilustrasi
suara enggan menyapa telinya

pagi menyapaku lagi
dengan tetes air di daun
sisa-sisa hujan semalam
kupenuhi rongga dada sepuasku

pagi menyentuh tapak kaki
kubiarkan segenap kulit ari
bermandikan embun pagi
aku belum ingin beranjak pergi
dari galeri ruang mimpi


(9 Maret  2001)



Betapa lucunya negeri ini



Pernah Kudengar Sebuah Lagu


Pernah kudengar sebuah lagu
Tentang kelucuan negeri ini
Katanya, ”sejak kemarin, di kota ini
Telah penuh dengan kekotoran
Bau bangkai tanpa terlihat mayat
Bau wangi tanpa ada kembang”.

Kini dimana-mana mayat terlihat
Tanpa ada bau bangkai
Apakah mata kita yang tak lagi kasat
Atau hidung kita kini kian lalai

Belum lagi usai rantai tragedi
Sampang, aceh, Maluku, ternate
Sampit dan hingga batas yang tak pasti
Dan mereka terus berkata santai
Keadaan aman di negeri ini

Betapa lucunya kita
Betapa lucunya negeri ini


(9 Maret 2001)
 

meniti batas antara hidup mati


aku ingin jalani hidup ini
dengan sepenuhnya caraku
dengan gayaku begini
karena aku adalah nafsu

tak perlu kau peduli aku
karena aku adalah keinginan
yang usang terhempas berlarian
tak mampu kejar cepatnya waktu

aku akan mati suatu saat pasti!
namun, tak perlu kau tanyakan
bekal mana ‘kan kubawa serta nanti
karena akulah segalanya harapan

kau pun diam semerta bisu
karena kau memang tak peduli
pun enggan menoleh padaku
meniti batas antara hidup mati


(9 Mar, 2001)


Thursday, March 8, 2001

Lewat Tengah Malam...

Kembali aku ke duniaku, berteman kesepian yang ramai. Mencumbu keramaian yang sunyi. Bergelut hening yang menyergap. Syahdu erat memelukku dengan riang, seakan selalu menyapaku, ‘Selamat datang…’. Tepat ketika kumatikan tv yang cerewet dan segenap suara bising lenyap menguap. Berganti serenade malam mengajak jiwaku kembali bernyanyi… seperti dulu.

Kubiarkan perasaan ini mengalir bersama waktu. Kunikmati suara-suara sepi menyapa sukmaku. Detak jam dinding, gaung dengung nyamuk, kemerisik daun dan kepak kelelawar sesekali. Semua meningkahi damainya suasana malam sumringah. Riuh menyambutku ke pintu masa lalu, ke masa ketika aku cinta malam-malam yang ramah.

Lembut mataku menyapu sekitar ruang yang diam, menyapa kursi-kursi yang lelap tertidur. Berteman dinding-dinding yang halus mendengkur. Ah… kusadari begitu lama kita tak lagi bertegur sapa.

Lewat tengah malam… Sesekali pekik burung malam memanggil, mengajakku beranjak ke luar meski hawa membuatku menggigil. Rumputan merunduk dan kuncup daun, kelopak bunga terpejam erat. Seluruhnya tertidur dibelai butiran udara dingin dan sinar bulan.

Lewat tengah malam… Udara sekitarku semerta menghangat ketika helaan nafas panjang terlepas, membawa gundah lebur bersama angin dingin dan mengembun di pucuk-pucuk daun.

Lewat tengah malam… Sukmaku terjaga menanti pagi.


(7 Mar 2001, 01.05 am)
-begadang-

Wednesday, March 7, 2001

Menjelang Pagi


Menjelang pagi...

Mataku masih tegar terjaga, enggan melewati waktu yang begini syahdu. Ternyata begitu nikmatnya mereguk keheningan malam ini. Menyadari ada sisi lain kehidupan yang biasanya bising dan pengang, ternyata begitu syahdu dan lengang.

Menjelang pagi...

Dalam kesepian ini debar jiwaku meraja. Seperti beat musik perlahan, mengiringi setiap desah nafasku, satu... dua. Mengiris gelisahku lapis demi lapis yang sempat mengendap seharian ini, dan membuangnya hingga tuntas tak bersisa. Meninggalkan ruang kosong, hampa dan lega.

Menjelang pagi...

Pikirku melayang jauh tembusi waktu. Menyapa wajah-wajah lama di lembaran masa lalu. Semua tiba-tiba hadir satu demi satu, membentuk nuansa mozaik dan signet, memenuhi dinding-dinding di benakku yang kini lapang. Satu per satu lembaran kisahku terpampang jelas terbaca. Aku seakan tengah berjalan di sebuah koridor panjang, membaca kisak-kisah perjalanan hidup yang semuanya rapi berada dalam bingkai rupa-rupa; kesenangan, kesedihan, keluguan, kedewasaan, kelucuan, kekonyolan dan bingkai hati yang lain. Seluruhnya tergantung rapi seakan sebuah ruang pada sebuah galeri hati.

Menjelang pagi...

Benakku belum lagi merasa lelah. Mataku belum juga lelap terpejam. Kubiarkan anganku bermain-main sepanjang waktu dan menuntunku ke masa-masa yang berbeda. Ada keharuan menyeruak sanubari ketika anganku hinggap di masa kekanakanku. Ada kerinduan membebat ketika anganku menyapa wajah-wajah muda kedua orang tuaku, wajah perkasa ayahku yang kini di nirwana dan ibu kekagumanku yang kini mulai tua. Ahh... betapa waktu demikian cepat beranjak. Namun angan tak pernah menjadi tua. Wajah-wajah hilang dan muncul silih berganti. Yang pergi dan datang selalu tak pernah henti. Jiwa yang lahir dan mati, tapi tidak demikian dengan semangatnya. Seluruh wajah mereka masih terpatri erat di khayalku, dan semangatnya mengusungku.

Menjelang pagi...

Anganku menguap seiring hening yang tergantikan kicau burung dan lagu selamat pagi. Sukmaku kembali menemui tubuh dan jiwaku yang masih terjaga, setelah sekejapan melanglangi alam khayali. Penat serta-merta menyadarkanku untuk meregangkan seluruh otot-otot yang kaku berjaga semalaman. aku menguap panjang, berharap satu tarikan nafas dalam dapat membayar waktu tidurku yang hilang. Desah nafas lega kuhela tak tertahankan.


(7 Maret 2001, 03.45 am)
-begadang-

Friday, March 2, 2001

Malam di Penghujung Ramadhan


malam di penghujung Ramadhan,
cinta itu merebak tertebar
tercurah dari atap langit
terajut di helai-helai jiwaku

inikah cinta-Mu?
teduh meluruhkan segala dengki
sejuk meredam gundahku seluruh

inikah cinta-Mu?
kelembutannya memaku keningku bersujud
kecil aku di haribaan kerajaan-Mu
tak pantaslah aku menengadah pongah

inikah cinta-Mu?
hangatnya mencairkan jiwa yg beku
merubah kesombongan menjadi air mata
memuaikan congkakku sirna tak bersisa

malam di penghujung Ramadhan
sujud aku mengasa segenap pelukNya
bersimbah Cinta


(2001)

Thursday, February 1, 2001

Aku Menyesali Waktu


aku menyesali waktu
ketika detiknya berlari
membatasi setiap pertemuan
dan mematikan yang kita pendam

aku menyesali waktu
ketika kita seharusnya ada
jauh sebelum cinta mengikat
dan membebaskan dua sukma tertawa

aku menyesali waktu
dan keberadaan kita
pada dimensi yang berbeda


(Feb, 2001)


Monday, January 15, 2001

Tentang Waktu…


waktu...
tak pernahkah sekali saja,
kita berhenti?
sesaat itu napas...
rotasi...
detak...
kerut-merut...
dan seluruh gerak,
ada dalam jeda

pagi kadang datang terlalu cepat
ketika malam masih lagi ingin kupeluk
dan mata pun sudah harus pula terjaga!
ketika aku belum lagi siap beranjak dari saat ini
dalam letih kakiku enggan beranjak meniti
menit-menit yang baru

akankah waktu henti???


(Jan 2001)


Saturday, January 13, 2001

Terkadang Kuingin, Kurindu, Kulekat


terkadang kuingin jalani
jelajah ruang dan waktu
ke masa lalu kukembali

terkadang kurindu saat
aku menjerit gembira
selonjor diatas pelepah kelapa
meluncur deras turuni lembah
berdebur di dinginnya air kali

terkadang kulekat saat
aku tengah didekap erat
lengan kekar tangan ayahku
melemparku ke udara bebas

melayang aku 
jatuh dalam riangku
ketikakuingin kembali...


(Jan, 2001)
potret kanak-kanak

Tanpa Judul (2)

siapa gerangan wajah polos itu?
dengan senyumnya sumringah
gigi-gigi kuning yang berkarat
(karena malas disikat)
kurus bertelanjang dada
peduli gurat-gurat tulang iga terpeta
(karena kurang gizinya)
pada mukanya gurat tak berdosa
tak ada sinar di cekung matanya
tapi wajah itu segar!

ah, ternyata rentang waktu
tak pernah dapat memelukku
mengajakku kembali pergi
ke masa kekanakanku berseri


(Jan 2001)
Tengah malam, potret-potret kusam