Tuesday, March 20, 2001

Coretan #5


Saput, gelap, senyap, kalut
aku berlari, telah lelah kini
jalan ke ujung, dirundung
silau,
parau
oh, bianglala yang indah
dia telah pudar sudah

tergugu
aku ‘lah letih
sendiku mati
duduk... duduk... duduk...
redup... redup...

lena terlentang, alam mendatang
rembang petang
lalu lama hilang

fajar ‘lah menyingsing menjelang
panasi embun
gemeritik
damai kuracik....


(20 maret 2001)

Monday, March 19, 2001

Coretan #6

(Lelaki Tua Itu)



kusapa tubuh lelah lelaki itu
dia diam membisu

kutanyakan keinginannya
dia diam tak tahu

kutinggalkan dia
dalam keputus-asaan
dan menghiba


(19 maret 2001)

Sunday, March 18, 2001

Coretan #7


(Malamku)


ketika semua lelap
dalam tidur, dalam mimpi
bermusik hening dan sepi
terjaga aku oleh resah membekap

mataku terbentang
menyapa kerlip gemintang
temani aku sepanjang jalan
mencari arah di gelap menghutan

aku lepaskan seluruh desah
di kepastian dan ketidakpastian
aku rebahkan semua gundah
di keabadian dan keterbatasan


(18 Maret 2001)

Monday, March 12, 2001

Wahai Jiwa Yang...*



pada jiwa yang didalamnya terbaring cinta
adakah malam yang berpelita
saat kita merangkai waktu
di bawah selimut damai dan bisu

pada jiwa yang tenang tak bergejolak
kalbu yang ruangnya berpuing luka
adakah satu ruang dapat kusibak
di tempat mana ingin kurebahkan asa

aku ingin menggapai berjuta mimpi


(Maret 2001)

Friday, March 9, 2001

Pagi Menyambutku Lagi


pagi menyambutku lagi
dengan dingin sebagai selimut
hening jadi musik ilustrasi
suara enggan menyapa telinya

pagi menyapaku lagi
dengan tetes air di daun
sisa-sisa hujan semalam
kupenuhi rongga dada sepuasku

pagi menyentuh tapak kaki
kubiarkan segenap kulit ari
bermandikan embun pagi
aku belum ingin beranjak pergi
dari galeri ruang mimpi


(9 Maret  2001)



Betapa lucunya negeri ini



Pernah Kudengar Sebuah Lagu


Pernah kudengar sebuah lagu
Tentang kelucuan negeri ini
Katanya, ”sejak kemarin, di kota ini
Telah penuh dengan kekotoran
Bau bangkai tanpa terlihat mayat
Bau wangi tanpa ada kembang”.

Kini dimana-mana mayat terlihat
Tanpa ada bau bangkai
Apakah mata kita yang tak lagi kasat
Atau hidung kita kini kian lalai

Belum lagi usai rantai tragedi
Sampang, aceh, Maluku, ternate
Sampit dan hingga batas yang tak pasti
Dan mereka terus berkata santai
Keadaan aman di negeri ini

Betapa lucunya kita
Betapa lucunya negeri ini


(9 Maret 2001)
 

meniti batas antara hidup mati


aku ingin jalani hidup ini
dengan sepenuhnya caraku
dengan gayaku begini
karena aku adalah nafsu

tak perlu kau peduli aku
karena aku adalah keinginan
yang usang terhempas berlarian
tak mampu kejar cepatnya waktu

aku akan mati suatu saat pasti!
namun, tak perlu kau tanyakan
bekal mana ‘kan kubawa serta nanti
karena akulah segalanya harapan

kau pun diam semerta bisu
karena kau memang tak peduli
pun enggan menoleh padaku
meniti batas antara hidup mati


(9 Mar, 2001)


Thursday, March 8, 2001

Lewat Tengah Malam...

Kembali aku ke duniaku, berteman kesepian yang ramai. Mencumbu keramaian yang sunyi. Bergelut hening yang menyergap. Syahdu erat memelukku dengan riang, seakan selalu menyapaku, ‘Selamat datang…’. Tepat ketika kumatikan tv yang cerewet dan segenap suara bising lenyap menguap. Berganti serenade malam mengajak jiwaku kembali bernyanyi… seperti dulu.

Kubiarkan perasaan ini mengalir bersama waktu. Kunikmati suara-suara sepi menyapa sukmaku. Detak jam dinding, gaung dengung nyamuk, kemerisik daun dan kepak kelelawar sesekali. Semua meningkahi damainya suasana malam sumringah. Riuh menyambutku ke pintu masa lalu, ke masa ketika aku cinta malam-malam yang ramah.

Lembut mataku menyapu sekitar ruang yang diam, menyapa kursi-kursi yang lelap tertidur. Berteman dinding-dinding yang halus mendengkur. Ah… kusadari begitu lama kita tak lagi bertegur sapa.

Lewat tengah malam… Sesekali pekik burung malam memanggil, mengajakku beranjak ke luar meski hawa membuatku menggigil. Rumputan merunduk dan kuncup daun, kelopak bunga terpejam erat. Seluruhnya tertidur dibelai butiran udara dingin dan sinar bulan.

Lewat tengah malam… Udara sekitarku semerta menghangat ketika helaan nafas panjang terlepas, membawa gundah lebur bersama angin dingin dan mengembun di pucuk-pucuk daun.

Lewat tengah malam… Sukmaku terjaga menanti pagi.


(7 Mar 2001, 01.05 am)
-begadang-

Wednesday, March 7, 2001

Menjelang Pagi


Menjelang pagi...

Mataku masih tegar terjaga, enggan melewati waktu yang begini syahdu. Ternyata begitu nikmatnya mereguk keheningan malam ini. Menyadari ada sisi lain kehidupan yang biasanya bising dan pengang, ternyata begitu syahdu dan lengang.

Menjelang pagi...

Dalam kesepian ini debar jiwaku meraja. Seperti beat musik perlahan, mengiringi setiap desah nafasku, satu... dua. Mengiris gelisahku lapis demi lapis yang sempat mengendap seharian ini, dan membuangnya hingga tuntas tak bersisa. Meninggalkan ruang kosong, hampa dan lega.

Menjelang pagi...

Pikirku melayang jauh tembusi waktu. Menyapa wajah-wajah lama di lembaran masa lalu. Semua tiba-tiba hadir satu demi satu, membentuk nuansa mozaik dan signet, memenuhi dinding-dinding di benakku yang kini lapang. Satu per satu lembaran kisahku terpampang jelas terbaca. Aku seakan tengah berjalan di sebuah koridor panjang, membaca kisak-kisah perjalanan hidup yang semuanya rapi berada dalam bingkai rupa-rupa; kesenangan, kesedihan, keluguan, kedewasaan, kelucuan, kekonyolan dan bingkai hati yang lain. Seluruhnya tergantung rapi seakan sebuah ruang pada sebuah galeri hati.

Menjelang pagi...

Benakku belum lagi merasa lelah. Mataku belum juga lelap terpejam. Kubiarkan anganku bermain-main sepanjang waktu dan menuntunku ke masa-masa yang berbeda. Ada keharuan menyeruak sanubari ketika anganku hinggap di masa kekanakanku. Ada kerinduan membebat ketika anganku menyapa wajah-wajah muda kedua orang tuaku, wajah perkasa ayahku yang kini di nirwana dan ibu kekagumanku yang kini mulai tua. Ahh... betapa waktu demikian cepat beranjak. Namun angan tak pernah menjadi tua. Wajah-wajah hilang dan muncul silih berganti. Yang pergi dan datang selalu tak pernah henti. Jiwa yang lahir dan mati, tapi tidak demikian dengan semangatnya. Seluruh wajah mereka masih terpatri erat di khayalku, dan semangatnya mengusungku.

Menjelang pagi...

Anganku menguap seiring hening yang tergantikan kicau burung dan lagu selamat pagi. Sukmaku kembali menemui tubuh dan jiwaku yang masih terjaga, setelah sekejapan melanglangi alam khayali. Penat serta-merta menyadarkanku untuk meregangkan seluruh otot-otot yang kaku berjaga semalaman. aku menguap panjang, berharap satu tarikan nafas dalam dapat membayar waktu tidurku yang hilang. Desah nafas lega kuhela tak tertahankan.


(7 Maret 2001, 03.45 am)
-begadang-

Friday, March 2, 2001

Malam di Penghujung Ramadhan


malam di penghujung Ramadhan,
cinta itu merebak tertebar
tercurah dari atap langit
terajut di helai-helai jiwaku

inikah cinta-Mu?
teduh meluruhkan segala dengki
sejuk meredam gundahku seluruh

inikah cinta-Mu?
kelembutannya memaku keningku bersujud
kecil aku di haribaan kerajaan-Mu
tak pantaslah aku menengadah pongah

inikah cinta-Mu?
hangatnya mencairkan jiwa yg beku
merubah kesombongan menjadi air mata
memuaikan congkakku sirna tak bersisa

malam di penghujung Ramadhan
sujud aku mengasa segenap pelukNya
bersimbah Cinta


(2001)