Wednesday, January 17, 1990

Monologue Untukmu (1)

episode keberapa ini?
bukankah ini masih waktuku
membaca narasi tentang cinta
tentang keakuan-keakuanku

biarkan aku menyairkan kisah itu
tentang mawar sekuntum yang merekah
berharap kau muncul di jendelamu
sapa pagi semarak berserak di wajah
biarkan aku berharap
menyentuhkan puncak hidungku
meresapi aroma bunga-bunga
nafas hangat dikulitmu

ah, naskahku hilang entah kemana
narasiku semakin tak bermakna


(Jan, 1990)
kepadamu yang sekejap tadi,
membuatku lupa diri


Sesaat Aku Melambung


sesaat aku melambung, ketika
kau ajak aku ke mega-mega
memasuki dunia khayali
buatku enggan untuk kembali

waktu itu kau bilang tak ingin sirna
kau minta aku menemani selamanya
tapi kini kau bentangkan pagar tinggi
dan tak ada alasan kita ‘tuk berbagi


(Maret 1990)




Thursday, January 11, 1990

Elegi Pagi




pagi, kusapa matahari sekali lagi

perlahan merangkak beranjak

detik demi detik surya menapak

jalani rotasi ini hari


pernah, aku berharap pagi membatu
lantang tak lekang oleh waktu
saat butiran air nyaman memeluk daun
menebar dingin sejuk mengalun

pagi, pernah aku mereguk asa
meraih butir mutiara pagi itu
basuh seluruh ruas wajahku
sirnakan nista pembalut raga

namun pagi yang sirna seniscaya
berlalu, menghangat, lebur mengudara
melayang melanglang seiring waktu
sesingkat kehadiranmu di ruas jari-jariku


(Jan, 1990)

Monday, January 1, 1990

Ketika Hatimu


ketika hatimu meronta
pada sesuatu terikat
pada pepat mendesak
bukalah simpul di hatimu
biarkan nafas merebak
agar lega dan bebas
dari dekapan bebat penat

ketika hatimu merindu
mengapa tak kau bisikkan
namanya pada temaram senja
terpampang di mega-mega
dan hembusan desir angin
memaksanya untuk singgah
di gendang telinganya

maka bukalah hatimu!
ketika meronta, ketika merindu
kelak akan kau dengar serenade
mengalun syahdu di mimpimu


(1990)

Istirahatlah aku (Episode Perpisahan)


Lelah,
tlah lama rasanya menghimpit raga
merengkuh remas remuk redam
rangkai telulang, alang kepalang

Aku lelah menguntit nyipit-nyipit
papaki wajah jelita
waktuku tertinggal, hilang terbilang
paksa bilah jari
gapai dikau, dewi.

(Ah, kiranya ‘ku salah memijak
tempatku berdiri berderak-derak
hingga ku tak mampu menjejak)

Hhh...
Aku terduduk selonjor lutut


(1990)