Wednesday, January 12, 2000

Tanpa Judul, Tanpa Arti (2)




Kadang kita lupa atau mungkin enggan membaca keheningan. Mendengar riak kerinduan yang melantun begitu perlahan, meski tertata rapi dan berirama lewat kalimat-kalimat meminta dan nyata terdengar jelas bernada.

Pernah kutulis berbaris puisi, prosa dan doa mengharap bidadari itu turun dari singgasana keangkuhannya. Berharap dia merengkuh segenap lembar-lembar ekspresi kerinduanku yang kutulis hari demi hari kian menggunung berbuku-buku. Sedang pintunya selalu saja tertutup tersekat, menutup setiap celah untukku menggemakan suara perdengarkan segenap lagu kekagumanku. Mengusik sukmanya dengan setiap bait sajak lagu pujaku.

Buku-buku itu bergunung-gunung tersimpan rapi teronggok menelan seluruh cerita tentangmu, dengan segenap kecantikanmu yang agung. Tanpa seorangpun pernah sempat membuka lembar demi lembar dan membaca segala yang tersurat. Tak ada seorang pun yang sempat mendengar keheningan yang kupekikan begitu lantang terteriak.

Buku itu, masa laluku… tentang segalamu.


(12 Jan 2000)