Aku berdiri tegak mematung. Terdiam di pinggir jalan raya, ditengah lalu lalang. Di bawah terik, bising dan panas sepanjang trotoar becek yang membalut sepatuku. Dari tempatku berdiri, pandangku menjelajah ke segenap tatap. Pada bukit yang berdiri megah di sebelah kiriku, mendaki, meninggi, jalan setapak bersemen yang berliku, jauh pandangku mendaki ke atas sana... pada puncaknya yang dulu hijau.
Ya, dulu di atas puncak bukit itu adalah kehijauan dan deretan pinus yang membentuk siluet puncak bukitnya. Bukit hijau yang kini tak tersentuh mataku lagi. Kemana
gerangan bukit hijau itu? Bukit yang dulu indah dengan undakan bak
tangga raksasanya dan jalan setapak yang penuh rerumputan tempat aku
biasa main perosotan. Dulu aku kerap berlari mendaki, hingga mendekati puncaknya. Lalu mengambil pelepah daun kelapa yang banyak teronggok di kebun kelapa. Menaikinya dengan berdebar takut namun penuh rasa penasaran dan keingin-tahuan. Lalu tanpa pikir panjang aku akan membiarkan diriku duduk di atas pelepah itu, meluncur dari ketinggian tempatku berdiri. Meluncur deras ke bawah dan seringkali berakhir dengan kejadian jatuh nyungsep ke semak pohon tetean atau hamparan rumput. Bergelindingan seiring sorak dan tawa, segenap sahabat kecil masa kanak2ku yang ikut bermain.
Lalu setelahnya, kami akan menyeberangi jalan raya yang selalu sepi, kecuali sesekali melintas kendaraan-kendaraan pribadi dan angkutan umum berupa opelet dan bis antar kota. Menyeberangi jalan dan turun ke lembah hijau di bawah sana. Melintasi deretan ladang tomat, kadang sawi. Menyeberangi liukan kalenan yang menawarkan sautan-sautan geruyuk air yang tak
pernah henti mengalir. Melintasi pematang-pematang sawah yang di sela-selanya kadang menyembul pipa yang dibuat dari batang-batang bambu yang dilubangi. Batang-batang bambu yang juga tak pernah henti mengalirkan air. Tak pernah berhenti. Lalu aku dan teman-teman akan sampai pada sebuah mata air dengan kolam yang tak terlalu besar tapi juga tak terlalu kecil. Ibak ka cai, begitu kata teman-teman kecilku. Dan kami segera mengucurkan air dingin itu membasuh tubuh hitam kecilku. Mandi, dan berjingkrak karena terentak dinginnya air yang menggelitik sekujur kulit dan tulang2ku.
Panas
dan bising menyentakku terjaga. Vila-vila dan pondasi beton menyergap
pandangku menggantikan fatamorgana tentang puncak bukit hijau dan
lembah-lembah di ketinggian sana. Ah, tak ada lagi anak-anak kecil yang memainkan permainanku dulu itu. Dan tak juga tersisa cai tempatku bermandi-mandi dulu. Jalan setapak menuju ke cai itu telah berganti dengan pagar-pagar pembatas sebagai tanda tanah telah dimiliki oleh pribadi-pribadi. Sepanjang pinggir jalan itu tak lagi berpagar tetean, berganti dengan deretan tempat-tempat usaha makan sate kelinci dan jagung bakar. Lahan-lahan yang dulu bebas hijau terbuka kini berganti menjadi bangunan-bangunan tempat peristirahatan atau penginapan dan lainnya.
Lembang yang dulu ada dalam benakku itu tak lagi ada (sang waktu menyapaku dengan senyum tuanya).
(Lembang, 3 Desember 2000)

