Thursday, September 27, 2001

Kepada Sang Khaliq (1)

Coretan di pagi hari


Kalau boleh aku meminta
Beri aku sepercik cairan syurgaMu
Sedikit saja.
Setitik itu kuperlukan untuk menyiram bara
Ini, di tungku yang menyala-nyala
Dengan sepanci dendam dan amarah
Menggelegak mencari jalan untuk segera
Tumpah ruah

Kalau boleh aku meminta
Beri aku satu utas benang
Pakaian bidadariMu
Tak perlu seuntaiannya
Agar dapat kurajutkan di hatiku yang
Ini hilang arah, tak ada sesuatu pun di hati ini
Petunjuk untuk jalan ke pintuMu

Kalau boleh aku meminta
Getarkanlah syaraf tawa di bibirku yang kelu
Aku hampir lupa menggerakkan jiwaku
Untuk sedikitnya senyum tersipu apalagi tertawa

Kalau boleh aku meminta
Antarkan aku ke jalan tempat KerajaanMu


(September 2001)

Kepada Sang Khaliq (2)



Satu-satu kau jauhkan semua kenikmatan
Yang dulu mengikatku,
Memalingkanku dariMu
Tak apa, aku kini tengah belajar
menatapMu dengan hati,
dan tersenyum menguraikan puja
ketimbang sejuta pinta

Kau berikan padaku kalbu
Di tempat tersembunyi dan yang
Tak pernah mampu kusadari
Dimana?

Kau sisipkan padanya cahaya
Hanya mataku terlalu miskin iman
Untuk melihat sedang dinding jiwaku
Terlalu penuh dengan karat
Melingku dan menyekap beningnya
Kaca hati hingga cahaya kalbuku redup
Dan mati

Kuharap tak Kau ambil cahayaku
Kumohon jangan dulu


(September 2001)

Thursday, September 6, 2001

Pada Kemarau di Musim Ini


kepada matahari
aku ingin menjadi telaga
yang selalu mengalirkan
mata air yang enggan mengering

kepada kemarau kualirkan 
kesejukan basuh kerontang 
pada tiap yang dahaga

kepada matahari
kualirkan cintaku
mengendap dan terserap
akar yg membangunkan bunga dari kuncup
daun yg mematangkan putik menjadi buah

kepada matahari,
kubiarkan lentik jemari sang cantik
memetik sematkan bunga cintaku
di wangi rambut legamnya


(September 2001)
Kemarau yang panjang