Wednesday, March 7, 2001

Menjelang Pagi


Menjelang pagi...

Mataku masih tegar terjaga, enggan melewati waktu yang begini syahdu. Ternyata begitu nikmatnya mereguk keheningan malam ini. Menyadari ada sisi lain kehidupan yang biasanya bising dan pengang, ternyata begitu syahdu dan lengang.

Menjelang pagi...

Dalam kesepian ini debar jiwaku meraja. Seperti beat musik perlahan, mengiringi setiap desah nafasku, satu... dua. Mengiris gelisahku lapis demi lapis yang sempat mengendap seharian ini, dan membuangnya hingga tuntas tak bersisa. Meninggalkan ruang kosong, hampa dan lega.

Menjelang pagi...

Pikirku melayang jauh tembusi waktu. Menyapa wajah-wajah lama di lembaran masa lalu. Semua tiba-tiba hadir satu demi satu, membentuk nuansa mozaik dan signet, memenuhi dinding-dinding di benakku yang kini lapang. Satu per satu lembaran kisahku terpampang jelas terbaca. Aku seakan tengah berjalan di sebuah koridor panjang, membaca kisak-kisah perjalanan hidup yang semuanya rapi berada dalam bingkai rupa-rupa; kesenangan, kesedihan, keluguan, kedewasaan, kelucuan, kekonyolan dan bingkai hati yang lain. Seluruhnya tergantung rapi seakan sebuah ruang pada sebuah galeri hati.

Menjelang pagi...

Benakku belum lagi merasa lelah. Mataku belum juga lelap terpejam. Kubiarkan anganku bermain-main sepanjang waktu dan menuntunku ke masa-masa yang berbeda. Ada keharuan menyeruak sanubari ketika anganku hinggap di masa kekanakanku. Ada kerinduan membebat ketika anganku menyapa wajah-wajah muda kedua orang tuaku, wajah perkasa ayahku yang kini di nirwana dan ibu kekagumanku yang kini mulai tua. Ahh... betapa waktu demikian cepat beranjak. Namun angan tak pernah menjadi tua. Wajah-wajah hilang dan muncul silih berganti. Yang pergi dan datang selalu tak pernah henti. Jiwa yang lahir dan mati, tapi tidak demikian dengan semangatnya. Seluruh wajah mereka masih terpatri erat di khayalku, dan semangatnya mengusungku.

Menjelang pagi...

Anganku menguap seiring hening yang tergantikan kicau burung dan lagu selamat pagi. Sukmaku kembali menemui tubuh dan jiwaku yang masih terjaga, setelah sekejapan melanglangi alam khayali. Penat serta-merta menyadarkanku untuk meregangkan seluruh otot-otot yang kaku berjaga semalaman. aku menguap panjang, berharap satu tarikan nafas dalam dapat membayar waktu tidurku yang hilang. Desah nafas lega kuhela tak tertahankan.


(7 Maret 2001, 03.45 am)
-begadang-

No comments:

Post a Comment