Menjelang pagi...
Mataku
masih tegar terjaga, enggan melewati waktu yang begini syahdu. Ternyata
begitu nikmatnya mereguk keheningan malam ini. Menyadari ada sisi lain
kehidupan yang biasanya bising dan pengang, ternyata begitu syahdu dan
lengang.
Menjelang pagi...
Dalam
kesepian ini debar jiwaku meraja. Seperti beat musik perlahan,
mengiringi setiap desah nafasku, satu... dua. Mengiris gelisahku lapis
demi lapis yang sempat mengendap seharian ini, dan membuangnya hingga
tuntas tak bersisa. Meninggalkan ruang kosong, hampa dan lega.
Menjelang pagi...
Pikirku
melayang jauh tembusi waktu. Menyapa wajah-wajah lama di lembaran masa
lalu. Semua tiba-tiba hadir satu demi satu, membentuk nuansa mozaik dan
signet, memenuhi dinding-dinding di benakku yang kini lapang. Satu per
satu lembaran kisahku terpampang jelas terbaca. Aku seakan tengah
berjalan di sebuah koridor panjang, membaca kisak-kisah perjalanan hidup
yang semuanya rapi berada dalam bingkai rupa-rupa; kesenangan,
kesedihan, keluguan, kedewasaan, kelucuan, kekonyolan dan bingkai hati
yang lain. Seluruhnya tergantung rapi seakan sebuah ruang pada sebuah
galeri hati.
Menjelang pagi...
Benakku
belum lagi merasa lelah. Mataku belum juga lelap terpejam. Kubiarkan
anganku bermain-main sepanjang waktu dan menuntunku ke masa-masa yang
berbeda. Ada keharuan menyeruak sanubari ketika anganku hinggap di masa
kekanakanku. Ada kerinduan membebat ketika anganku menyapa wajah-wajah
muda kedua orang tuaku, wajah perkasa ayahku yang kini di nirwana dan
ibu kekagumanku yang kini mulai tua. Ahh... betapa waktu demikian cepat
beranjak. Namun angan tak pernah menjadi tua. Wajah-wajah hilang dan
muncul silih berganti. Yang pergi dan datang selalu tak pernah henti.
Jiwa yang lahir dan mati, tapi tidak demikian dengan semangatnya.
Seluruh wajah mereka masih terpatri erat di khayalku, dan semangatnya
mengusungku.
Menjelang pagi...
Anganku
menguap seiring hening yang tergantikan kicau burung dan lagu selamat
pagi. Sukmaku kembali menemui tubuh dan jiwaku yang masih terjaga,
setelah sekejapan melanglangi alam khayali. Penat serta-merta
menyadarkanku untuk meregangkan seluruh otot-otot yang kaku berjaga
semalaman. aku menguap panjang, berharap satu tarikan nafas dalam dapat
membayar waktu tidurku yang hilang. Desah nafas lega kuhela tak
tertahankan.
(7 Maret 2001, 03.45 am)
-begadang-
No comments:
Post a Comment