Thursday, December 22, 2005

Negeri Sejuta Ironi



Kita makin kaya.. 
Makin kaya akan orang-orang miskin
yang kian tergerus oleh kelaparan,
tertinggal oleh kemajuan dan terpuruk dalam peradaban. 
Orang-orang yang terlempar ke lembah kesukaran

Kita pernah bertepuk dada dalam kebanggaan akan kemampuan 
berswasembada beras dan kebutuhan hidup lainnya. 
Tapi kini kita makin kaya akan rasa keprihatinan 
mereka-mereka yang harus mengantri untuk mendapatkan 
secuil saja dari kebutuhan hidupnya yang paling hakiki.

Kelaparan memaksa mereka harus antri untuk 
waktu yang tak pasti, menanti bantuan 
uluran tangan orang-orang yang hidupnya berlebihan...

Antri beras dengan label miskin...
Antri minyak tanah untuk orang miskin...
Antri dus indomie untuk masyarakat miskin...
Antri pengobatan untuk orang miskin...
Antri dana subsidi langsung (buat orang miskin)...

Antri...

Menunggu dan menunggu

Dalam kepedihan, keprihatinan, 
dan akhirnya mati dalam keputusasaan

Makin banyak pohon-pohon dan para-para
menangis menanggung beban
mereka-mereka yang menemui kematian,
karena tak lagi sanggup memikul beban hidup
dan seramnya melukis gambaran masa depan

makin banyak orang mati menggantung diri!
bapak-bapak yang kehilangan pekerjaan
ibu-ibu yang terbelit hutang
anak sekolah yang belum melunasi bayaran

hampir tak ada masa depan, buat mereka
maaf, mungkin bukan hampir..
tapi memang tak ada lagi masa depan!

Kita makin kaya akan cerita suram potret kemiskinan
bayi-bayi yang mati atau yang duduk di balai tikar kusam
dengan perut membusung mengurat karena lapar membekap
sepertinya makan sehari tiga kali tinggal lagi sebatas mimpi
atau minum susu basi pun jadi suatu kemewahan
bagi mereka bayi-bayi yang semakin membantat kurang gizi

Otak mereka kian menciut
tubuh mereka sama dengan nenek-nenek keriput
dari masa ke masa, mereka makin jadi generasi tanpa asa
adakah tempat buat mereka berlomba ketika dunia makin jadi
ajang pertarungan mencari kesempatan hidup,
mencari kerja?
dengan kepandaian apa?

Kita makin kaya akan jurang kesenjangan, di seluruh pelosok negeri ini
di negeri yang kaya raya, gemah ripah loh jinawi

Negeri dengan sejuta ironi!


(Des 2005)

Monday, December 5, 2005

Why do people always cry?


Why we always end up with cry?


mengapa kita menangis ketika bersedih?
kita menangis ketika berbahagia?
kita bahkan menangis ketika tertawa?

mengapa menangis ketika kita kehilangan?
dan menangis ketika memperoleh kenikmatan?

apakah menangis gambaran jiwa-jiwa yang lemah
dan cengeng?
atau fitrah yang diberikan Tuhan pertanda kita manusia,
makhluk yang memiliki kasih sayang.

mengapa kadang kita harus menjelaskan
hal-hal yang sulit untuk dijelaskan

mengapa kadang sulit memahami
hal sederhana yang mudah untuk dimengerti?

apakah kita lebih suka mempersulit diri
ketika semua yang mudah tak berarti lagi?