Satu-satu kau jauhkan semua kenikmatan
Yang dulu mengikatku,
Memalingkanku dariMu
Tak apa, aku kini tengah belajar
menatapMu dengan hati,
dan tersenyum menguraikan puja
ketimbang sejuta pinta
Kau berikan padaku kalbu
Di tempat tersembunyi dan yang
Tak pernah mampu kusadari
Dimana?
Kau sisipkan padanya cahaya
Hanya mataku terlalu miskin iman
Untuk melihat sedang dinding jiwaku
Terlalu penuh dengan karat
Melingku dan menyekap beningnya
Kaca hati hingga cahaya kalbuku redup
Dan mati
Kuharap tak Kau ambil cahayaku
Kumohon jangan dulu
(September 2001)
No comments:
Post a Comment