aku merayapi kemacetan, malam itu
jakarta, beragam wajahmu berkelebat
di angkot yang merayap meratap
wajah pertama
seorang anak kecil, tirus dan pucat
mencoba mengganjal lapar yang membebat
dengan bebunyian lantang
melatari nyanyian yang sumbang
angkot putih kumuh itu kulewati,
semburan knalpot batuk mengiringi
wajah kedua
malam menggerus tulangmu yang renta, ibu
sedang kau masih menebar tikar berharap
menanti para peminat serabi bau asap
di tengah lezatnya ayam Kentucky dan Yakiniku
lampu hijau menyala
mengusik hatiku yang teriris
kutarik gas dan berlalu segera
menyeruput debu dan angin tiris
dingin memeluk wajahku
yang mendadak muram
(17 Mei 2001)
No comments:
Post a Comment