Thursday, November 1, 1990

Lelah



Jauh,
semakin jauh hasrat
gapai sebongkah mimpi

Sabar,
Sabarku mencoba telan ini
Sukaku yang tertunda

Adalah aku;
telan sudah semua kecewa

Kacau,
tak lagi mampu berpuisi aku


(Nov 1990)
*Episode kecapaian

Friday, June 1, 1990

Tentang Senja…

 
 
Mengapa senja begitu kau puja?
seolah waktu kan habis
di putihnya pantai yang terkikis

Masih ada lagu pagi esok hari
dan hamparan sejuk butiran embun
Yang mendingin di kulit-kulit ari
kaki-kaki elok para bidadari
menyelesaikan tariannya

Dan sayapnya menebar benih:

masih ada cinta hari ini
untuk hati yang selalu bernyanyi!

Dan aroma rambutnya merebak:

mengetuk pintu yg terkunci,
menguak sekat yg tercekat,
menelusup celah-celah perindu

Tuntun sesiapa mencari belahan jiwanya


(Juni 1990)

Monday, May 21, 1990

Lagu itu (Memang) Bukan Untukmu

dan, kulantunkan lagu itu perlahan
dengan sepenuh getar di dada
mataku terpejam meresapi setiap kata
nada indah meliuk; kesunyian memeluk
kulantunkan lagu itu perlahan
sambil berharap kau berdiri di depanku
kukatupkan kelopak mata dan terus memejam
sambil mencoba meletakkan bayangmu disana
dan yang kudapat hanya tatapmu yang beku
dengan seulas senyum kaku

kulantunkan lagu itu perlahan
kata demi kata, bait demi bait
kuulang dengan keinginan yang membahana
dan tepuk tangan kuterima tanpa rasa
ditelan kepedihan tak terkata

lagu itu (memang) bukan lagi untukmu


(21 Mei 1990)
-Hotel Indonesia, pengalaman pertama



Terpana

merdu mendayu
lantunnya tak henti memukau
ketika langkahku mati
dan aku menoleh nyaris tanpa rasa
ada gaung membelai telinga
memaksaku terpana, kurasa

tatapnya mematriku, malam itu
memaku waktu, berhenti
geraknya lembut gemulai
dan syahdu malam kusemai


(21 Mei, 1990)
-In the lobby


Saturday, May 19, 1990

Seribu Wajah


seribu wajah berkelebat
berserabutan memenuhi benak
yang satu kuingat
yang satu kulupa
yang satu kurindu
yang lainnya tak peduli siapa

wajah-wajah itu berkelebat
meninggalkan catatan rindu
mengajakku kembali ke masa lalu


(19 Mei 1990)
-kangen-


Wednesday, February 7, 1990

Tentang Aku (1)



(Episode Menengok Masa Lalu)


Aku
kembali aku
ke padang sejuta sepi
berkubang senyap
mengendap segara swara
‘bak dulu,
mula-mulaku


(awal Februari 1990)
Malam, potret masa kecil


Wednesday, January 17, 1990

Monologue Untukmu (1)

episode keberapa ini?
bukankah ini masih waktuku
membaca narasi tentang cinta
tentang keakuan-keakuanku

biarkan aku menyairkan kisah itu
tentang mawar sekuntum yang merekah
berharap kau muncul di jendelamu
sapa pagi semarak berserak di wajah
biarkan aku berharap
menyentuhkan puncak hidungku
meresapi aroma bunga-bunga
nafas hangat dikulitmu

ah, naskahku hilang entah kemana
narasiku semakin tak bermakna


(Jan, 1990)
kepadamu yang sekejap tadi,
membuatku lupa diri


Sesaat Aku Melambung


sesaat aku melambung, ketika
kau ajak aku ke mega-mega
memasuki dunia khayali
buatku enggan untuk kembali

waktu itu kau bilang tak ingin sirna
kau minta aku menemani selamanya
tapi kini kau bentangkan pagar tinggi
dan tak ada alasan kita ‘tuk berbagi


(Maret 1990)




Thursday, January 11, 1990

Elegi Pagi




pagi, kusapa matahari sekali lagi

perlahan merangkak beranjak

detik demi detik surya menapak

jalani rotasi ini hari


pernah, aku berharap pagi membatu
lantang tak lekang oleh waktu
saat butiran air nyaman memeluk daun
menebar dingin sejuk mengalun

pagi, pernah aku mereguk asa
meraih butir mutiara pagi itu
basuh seluruh ruas wajahku
sirnakan nista pembalut raga

namun pagi yang sirna seniscaya
berlalu, menghangat, lebur mengudara
melayang melanglang seiring waktu
sesingkat kehadiranmu di ruas jari-jariku


(Jan, 1990)

Monday, January 1, 1990

Ketika Hatimu


ketika hatimu meronta
pada sesuatu terikat
pada pepat mendesak
bukalah simpul di hatimu
biarkan nafas merebak
agar lega dan bebas
dari dekapan bebat penat

ketika hatimu merindu
mengapa tak kau bisikkan
namanya pada temaram senja
terpampang di mega-mega
dan hembusan desir angin
memaksanya untuk singgah
di gendang telinganya

maka bukalah hatimu!
ketika meronta, ketika merindu
kelak akan kau dengar serenade
mengalun syahdu di mimpimu


(1990)

Istirahatlah aku (Episode Perpisahan)


Lelah,
tlah lama rasanya menghimpit raga
merengkuh remas remuk redam
rangkai telulang, alang kepalang

Aku lelah menguntit nyipit-nyipit
papaki wajah jelita
waktuku tertinggal, hilang terbilang
paksa bilah jari
gapai dikau, dewi.

(Ah, kiranya ‘ku salah memijak
tempatku berdiri berderak-derak
hingga ku tak mampu menjejak)

Hhh...
Aku terduduk selonjor lutut


(1990)