(sebuah catatan untuk bangsa yang gemar bertikai)
tak dapatkah segenap kita menanggalkan pakaian
yang selama ini membungkus dan memilah kita
ke dalam kelas-kelas dan kelompok berbeda?
aku rindu kita yang menyatu
tak dapatkah sesaat saja kau tanggalkan
segala atribut yang membedakan aku dan kamu,
tempatku dan tempatmu
bumimu dan bumiku
dan yang tersisa hanya warna yang sama
merah dan putih bendera kit?
tak dapatkah kau tutup mulut dan buka telinga
hentikan tutur kata yang berbeda makna
yang menjerumuskan kita kedalam jurang
ketidak mengertian dan beda faham?
dan dengarkan dendang persatuan
yang kerap kita nyanyikan dalam lagu itu
lagu kebangsaan kita, indonesia raya
tidakkah itu berarti buatmu;
seperti berartinya getar itu bagiku
aku mengenalmu jauh sebelum kita bertemu
ketika darah kita masih mentah
menggelegak di tiap pembuluh darah
kakek dan nenek moyang kita
mereka yang berjuang untuk anak cucunya
agar kita bisa menghirup udara yang merdeka
seperti sekarang!
bukan berjuang untuk kepentingan sesaat
atau demi hidup kelompok, kerabat dan keluarga
yang mereka citakan itu cuma negara ini yang satu
bukan kita yang berbeda
mengapa tidak kita pakai pakaian itu sekarang?
aku saudaramu, kita sebangsa
tak ada yang membedakan diantara kita
jika kita mau
tak dapatkah sesaat saja
mata dan telinga kita bebas dari kucuran darah
yang mengalir hanya karena sebuah pertikaian
karena pakaian kita yang terkotak-kotak
karena bahasa kita yang tak sepaham
karena keinginan kita yang berseberangan
karena kealpaan kita,
bahwa kita sama
bahwa kita satu
(Mei 2001)