Wednesday, May 23, 2001

Ibuku

sorot matamu yang merindu
ketika aku datang pagi tadi
seperti padang gersang tak berperdu
menanti hujan bertahun pergi

selama itukah aku tak datang menjengukmu?

seperti tubuh yang bergerak tanpa jiwa
menggeluti kerja bak pecandu
waktu tak sempat lagi menyapa;
pagi sore siang malam berlalu

sedalam itukah aku lebur dengan angka-angka?

ibu, sisakan untukku haribaanmu
tempatku rebahkan kekanakan yang lelah
jangan kau menua dulu, ibu!
masih ada jiwaku yang selamanya bocah


(23 Mei 2001)

Saturday, May 19, 2001

Tentang Kita, Tentang Kebangsaan

(sebuah catatan untuk bangsa yang gemar bertikai)


tak dapatkah segenap kita menanggalkan pakaian
yang selama ini membungkus dan memilah kita
ke dalam kelas-kelas dan kelompok berbeda?
aku rindu kita yang menyatu

tak dapatkah sesaat saja kau tanggalkan
segala atribut yang membedakan aku dan kamu,
tempatku dan tempatmu
bumimu dan bumiku
dan yang tersisa hanya warna yang sama
merah dan putih bendera kit?

tak dapatkah kau tutup mulut dan buka telinga
hentikan tutur kata yang berbeda makna
yang menjerumuskan kita kedalam jurang
ketidak mengertian dan beda faham?
dan dengarkan dendang persatuan
yang kerap kita nyanyikan dalam lagu itu
lagu kebangsaan kita, indonesia raya
tidakkah itu berarti buatmu;
seperti berartinya getar itu bagiku

aku mengenalmu jauh sebelum kita bertemu
ketika darah kita masih mentah
menggelegak di tiap pembuluh darah
kakek dan nenek moyang kita
mereka yang berjuang untuk anak cucunya
agar kita bisa menghirup udara yang merdeka
seperti sekarang!
bukan berjuang untuk kepentingan sesaat
atau demi hidup kelompok, kerabat dan keluarga
yang mereka citakan itu cuma negara ini yang satu
bukan kita yang berbeda
mengapa tidak kita pakai pakaian itu sekarang?
aku saudaramu, kita sebangsa
tak ada yang membedakan diantara kita
jika kita mau

tak dapatkah sesaat saja
mata dan telinga kita bebas dari kucuran darah
yang mengalir hanya karena sebuah pertikaian
karena pakaian kita yang terkotak-kotak
karena bahasa kita yang tak sepaham
karena keinginan kita yang berseberangan
karena kealpaan kita,
bahwa kita sama
bahwa kita satu


(Mei 2001)

Thursday, May 17, 2001

Perjalanan Pulang Malam Itu


aku merayapi kemacetan, malam itu
jakarta, beragam wajahmu berkelebat
di angkot yang merayap meratap

wajah pertama
seorang anak kecil, tirus dan pucat
mencoba mengganjal lapar yang membebat
dengan bebunyian lantang
melatari nyanyian yang sumbang

angkot putih kumuh itu kulewati,
semburan knalpot batuk mengiringi

wajah kedua
malam menggerus tulangmu yang renta, ibu
sedang kau masih menebar tikar berharap
menanti para peminat serabi bau asap
di tengah lezatnya ayam Kentucky dan Yakiniku

lampu hijau menyala
mengusik hatiku yang teriris
kutarik gas dan berlalu segera
menyeruput debu dan angin tiris

dingin memeluk wajahku
yang mendadak muram


(17 Mei 2001)

Sunday, May 6, 2001

Sepiku Adalah



sepiku ada di tengah keramaian
senyap menyeruak dilingkup kebisingan
beriku ruang dialog antara aku dan jiwaku

sepiku adalah teman dalam kekosongan
ada monolog yang kugores
dalam dinding-dinding jiwaku

sepiku adalah saat kepedihan sirna
saat aku mengenali aku
memantra kerinduan

sepiku adalah berjuta swara...


(2001)

Saturday, May 5, 2001

Biarkan


biarkan kututup mata lekat-lekat
untukku meresapmu seluruh

dan biarkan telingaku lapat-lapat
mendengarmu tertawa riuh

maka biarkan aku mengenangnya
satu yang pernah kumencinta


(Mei 2001)

Thursday, May 3, 2001

T e k a d

Hiduplah, hidup
jiwaku hidup
kubangkit,
meski sayatan luka
berasa sakit


(3 Mei 2001)

Pada Pertiwi


Pertiwi;
adalah cacatmu, cacatku jua
adalah coreng morengmu
coreng morengku jua

Pertiwi;
pada tanahmu tersimpan sejarah
betapa kita bangsa yang ramah
disini kumemijak

jejak lekuk menjorok
tanah tumpah bawa bahgia, duka, semua
adalah bumiku pertiwi;

Indonesia


(3 Mei 2001)

Tuesday, May 1, 2001

Rinduku, Tuhanku (1)



pada padang tanah impian
kusemai ladang jiwaku
dengan benih kebersahajaan
aku rindu damai nafasMu

pada riak pantai biru permai
kularungkan biduk harap
bertebar jala berisi doa doa
aku rindu peluk rahmatMu

pada sepi di lembar malam
kurebahkan sukma melantun pinta dan puja
menuju Ars-Mu jauh di gugus bintang
berharap ridhoMu terima segera
cintaku sujudku dzikirku yang usang


(Mei 2001)
-tengah malam-

Rinduku, Tuhanku (2)


andai kuresap cinta-Mu
tak 'kan ada keresahan nafasku

andai kutangkap tali kasih-Mu
kan kuikat jiwa ragaku
dengan tasbih, tahlil dan tahmid

andai kutahu jalan menuju surgaMu
kan kutuntun jiwaku dengan doa

betapa kurindu mereguk Rohmah
pengisi jiwa laparku yang lelah


(Mei, 2001)
*kerinduan