Saturday, February 6, 2016

Pagi di Sebuah Persimpangan


Tadi pagi aku disapa pengemis
tatap matanya memelas dan mengiris
tubuhnya ringkih bergelut perjuangan keras
tapi kulengoskan wajah dengan malas

pagi itu kutebar ketakpedulian, kekikiran

Sekelokan di depan, sesaat kemudian
seorang supir bajaj sedang santai
di dalam bajajnya kumal dan gerah
siap melahap ransum nasi bungkusan

seorang pengemis wanita tua lewat
menyapa dengan tatap lapar lekat-lekat
supir bajaj itu spontan tersenyum dan mengangsur
tawarkan nasinya berlauk daging semur

pagi itu aku belajar tentang kemuliaan,
kedermawanan


(Jan, 2001)

No comments:

Post a Comment