Negeri ini bukan negeri atas awan. Bukan istana kahyangan yang melayang di atas awang-awang. Tapi negeri ini banyak dihuni para siluman. Siluman tampan, siluman sialan dan siluman bertampang preman yang rakus makan, makan nyawa. Nyawa begitu mudahnya hilang melayang, tapi jasad dimana lenyap nggak keruan.
Negeri ini negeri berbalut hukum yang dijunjung tinggi dan jadi dasar yang hakiki. Negeri ini bukan negeri sekumpulan jagoan jalanan dan tak suka kekerasan. Tapi setiap masalah tak bernah lepas dari ujung pangkal huru hara, keramaian dan ribut-ribut kumpulan demonstran. Baku pukul, baku dorong, baku hantam jadi bahasa penghabisan ketika baku mulut tak mencapai kata kesudahan. Banyak pelajar lupa belajar karena sibuk saling bertengkar dan baku kejar. Banyak pelajar lupa bawa buku, karena mending bermanfaat bawa golok, bukan untuk mencolok tapi jelas untuk menggorok. Banyak mahasiswa mati di jalan, memperjuangkan idealisme dan keluhuran harapan, namun kadang juga cuma untuk sebuah kekonyolan. Negeri ini negeri gemah ripah loh jinawi, tapi kemerataan hanya sekedar untuk kondisi kelaparan dan kemiskinan bagi para rakyat yang setiap saat siap mati. Penderitaan rakyat sering jadi tak berarti karena orang-orang kaya yang tengah sibuk menjabat dan menjadi pelayan negara pelayan masyarakat, lupa mengabdi karena sibuk memperkaya diri, dan seringkali malah minta dilayani.
Negeri ini makin kehilangan bahasa yang kupakai sehari-hari dan kitan tak kumengerti. Ketika kisah kepedihan dan kesusahan kian jadi bahasa asing dan hanya menjadi bahan komoditi ketika para calon penguasa sibuk menjual diri, mengumbar janji. Politik hanya untuk memperkaya dan memperkuasa diri. Ketenangan dan kedamaian seolah sesuatu yang langka dan nyaris punah. Kebutuhan hidup kian mencekik, seperti kuntilanak yang sering ada di film-film, tertawa meringkik. Harga-harga menjadi-jadi seringkali merangkak naik.
Negeri ini ladang para koruptor. Dari lurah, camat hingga bupati hobbynya makan bergepok-gepok duit sogok dan hasil main kotor. Polisi jadi tukang sulap, Hakim dan Jaksa juga ikut-ikutan jadi tukang sulap, sibuk ngakalin segala hal dengan cara main dan makan duit suap. Nggak ketinggalan menteri-menteri dan wakil rakyat yang terhormat ikut-ikutan nilap duit negara bak tukang sulap! Pendapatan pajak pun kalo bisa digasak meski harus main sembunyi dan tiarap.
Ah, entahlah barangkali negeri ini emang udah mo ancur. Bikin gue males banget buat ngapa-ngapain, dan bikin gue mikir.. mending gue pergi tidur!
(April 2008)
No comments:
Post a Comment