Monday, April 26, 2004

Berkacaku, Kuberkaca


satusatu kematian menyapa
dari beritaberita dan tetanggatetangga
menyentakku dari kealpaan
bahwa sesungguhnya tak ada akhiran
kecuali satu tempat nanti segala abadi

satusatu kematian menjemput
tak jauhjauh, melekati raga
tiap kali aku berkaca
tak jemu-jemu mematut-matut

dan lupa sesuatu tengah terjadi:
selsel kulit yang mati dan berlepasan
gigi-gigi yang merenggang centang perenang
helaihelai rambut memutih menjarang
mengulai, melemah, menua didera tempaan

sesungguhnya aku menyaksikan kematian
menyapa dengan caranya diam-diam
menyadarkanku tentang batas akhir

saat dimana kupertanggungjawabkan semua
nafas, usia dan harihari yang terbuang percuma
lupa bersyukur dan lupa dzikir



(26 april 2004)

No comments:

Post a Comment