
Kadang
kita lupa atau mungkin enggan membaca keheningan. Mendengar riak
kerinduan yang melantun begitu perlahan, meski tertata rapi dan berirama
lewat kalimat-kalimat meminta dan nyata terdengar jelas bernada.
Pernah
kutulis berbaris puisi, prosa dan doa mengharap bidadari itu turun dari
singgasana keangkuhannya. Berharap dia merengkuh segenap lembar-lembar
ekspresi kerinduanku yang kutulis hari demi hari kian menggunung
berbuku-buku. Sedang pintunya selalu saja tertutup tersekat, menutup
setiap celah untukku menggemakan suara perdengarkan segenap lagu
kekagumanku. Mengusik sukmanya dengan setiap bait sajak lagu pujaku.
Buku-buku
itu bergunung-gunung tersimpan rapi teronggok menelan seluruh cerita
tentangmu, dengan segenap kecantikanmu yang agung. Tanpa seorangpun
pernah sempat membuka lembar demi lembar dan membaca segala yang
tersurat. Tak ada seorang pun yang sempat mendengar keheningan yang
kupekikan begitu lantang terteriak.
Buku itu, masa laluku… tentang segalamu.
(12 Jan 2000)
No comments:
Post a Comment